Selasa, 13 Januari 2015

Bakpao Malam Minggu

Apa kabar hati? bagaimana kondisi hatimu hari ini? masih kah kau marah padaku? masihkah kau ragukan aku? untuk rasa sayang yang selalu kuberi untukmu. Belum, belum ada rasa bosan aku menjaga perasaanku untukmu yang kuharap tidak akan pernah bosan.
Hati, ingatkah kau tentang bakpao malam minggu itu? yang kita makan berdua. Dibawah sinar bintang yang menyinari kita. Hangat, sehangat pelukanmu yang selalu kurindukan. Taukah kau, ketika aku menyuruhmu melihat bintang, seperti itulah keadaan hatiku, bersinar cerah berkerlip indah memandangmu. Tapi......ketika kau membuat pernyataan bahwa kau harus punya plan B untuk segala kemungkinan nanti, mendadak hatiku juga seperti bintang diangkasa sana, bertebaran. Aku ingin kau yang menguatkan saat itu, tapi entahlah tak dapat lagi kurasa. Kau tau aku adalah wanita, dan wanita yang ini adalah wanita yang paling lemah hatinya, lemah perasaannya dan selalu ingin disayang oleh lelakinya. Aku takut saja, suatu saat nanti plan B mu itu terwujudkan olehmu. Meski kau bilang tidak ingin, tidak ada yang lain selain aku. Aku mohon jangan membuat plan B untukku. Ingin ku menangis bersandar dibahumu, tapi aku kan wanita kuat. Aku memilih menahan air mata yang sudah tak sabar ingin jatuh. Karena disisi lain aku tak mau melihatmu bersedih melihatku, mengubah suasana yang seharusnya romantis menjadi sendu. Perasaanku kacau saat itu. Aku tak mau kau juga. Sayang, ingin rasanya waktu ini aku stop untuk kita. Agar lebih lama saja aku menyandar dibahumu, hatiku mendadak kacau saat itu juga. Tapi, kau suruhku melupakan. Tidak semudah itu sayang, apapun yang telah kuingat apalagi plan paling menyakitkan itu aku tak bisa melupakan begitu saja. AKU MENYAYANGIMU SELALU. AKU MENYAYANGIMU SELALU. AKU MENYAYANGIMU SELALU. kau jangan pernah lupa. Aku ingin kau selalu mengingatnya meski nanti (dan kuharap tak pernah terjadi) kita tak bersama lagi. Aku memang tak mengizinkanmu menyukaiku setelah kamu menyukai yang lain, tapi aku mohon jangan pernah lupakan aku. Aku yang pernah menyayangimu dengan tulus. Aku yang pernah kau jadikan plan B kala itu. Ingin aku menangis bersama hujan, iya aku memang sudah menangis pertama aku menulis ini. Maafkan aku, bukannya aku membuatmu merasa tertahan. Hanya saja aku telah mencintaimu. sangat mencintaimu. aku tau terlalu berlebihan kadar sayang ku untukmu.Tapi, Maafkan aku. Aku hanya ingin menjadi yang terakhir bagimu. seperti yang sering kau bilang. Once and forever. Selamanya Begini :')

#Fa

Senin, 05 Januari 2015

Aku akan membuatnya cemburu

aku akan membuatnya cemburu
setelah apa yang dilakukannya padamu membuatmu sakit, membuatmu jatuh membuatmu kehilangan arahmu sendiri. Aku akan membuatnya cemburu dengan aku menyukaimu, menyayangimu setulus hatiku. Aku ingin dia membayar mahal apa yang telah dia lakukan padamu. Kamu bukan seseorang yang pantas untuk dilukai, disakiti dan dijatuhkan berkali-kali. Aku hanya ingin membelamu. Dari ketidak adilan perasaannya, yang membuatmu semakin terluka, sayang. Aku ingin menjadi penawarmu, menjadi seseorang yang baru dalam hidupmu. Membawa warna dalam setiap harimu. Mewarnai dengan warna-warna yang indah dan cerah. Membuatmu terus tersenyum menatap masa depanmu. Membuatmu enggan menengok masa lalumu. Optimis dalam melakukan segala hal yang ingin kau kerjakan.Mendukung hobi positifmu. Aku akan membuatnya cemburu. Maafkan aku jika caraku salah. Aku terlalu mencintaimu, sayang. aku mengenalmu setahun lalu. Tapi rasa sayangku ke kamu sangatlah besar. tak dapat dideskripsikan lagi. Aku ingin selalu melihat kebahagiaanmu. Aku tak mau kau yang bersedih. Kau yang tak bersemangat. Kau yang tak pernah bisa melupakan rasa sakitmu dulu. Sayang, kau pernah bilang padaku "maaf, jika aku tak bisa menjanjikanmu banyak bintang dimasa depan nanti". Tapi tenanglah, biarkan aku yang membuatkan bintangku untukmu. kau tinggal menikmatinya saja keindahannya atau kau menemaniku membuat bintang kita bersama-sama. kau mau kan? Aku hanya ingin dia membayar lunas apa yang telah dia perbuat padamu. bukan untuk menyakitinya. Aku hanya ingin membuktikan padanya kalau aku lebih bisa mencintaimu, menyayangimu dan merawatmu. Terimakasih untuk kesempatan yang telah kau berikan padaku, sayang. menaruh kepercayaanmu kepada seseorang yang belum lama kau kenal. Meski sangat sulit dengan jarak dan kesibukan kita masing-masing. Aku menyukaimu menaruh harapan besarmu padaku "Aku ingin jika kau ku sentuh, kau tidak perlu ber wudhu lagi." terdengar lucu. Aku selalu mengaminkan harapanmu semoga kelak bisa terwujud. Menaruh segala harap dan do'a kepada Tuhan, menyerahkan segalanya kembali pada-Nya. Aku mohonkan segalanya untuk bahagianya kita. Untuk bahagianya yang selalu kubuat cemburu. Terimakasih untuk segalanya, Tuan. Mencintaimu memang tak pernah ada bosan. Sekalipun aku bosan aku takkan pernah lagi merasa bahwa mencintaimu membosankan. Danke, vd :)  ~ Fa 'mu'

Jumat, 10 Oktober 2014

FLASHBACK

flashback....

ingat tidak ketika pertama kali aku mengambil fotomu diam2?
ingat tidak ketika pertama kali aku kikuk ketika kamu melempar senyum termanismu?
ingat tidak ketika pertama kali kau ajaku berbicara?
ingat tidak ketika aku masih jaim-jaimnya bercakap denganmu?
ingat tidak ketika kau mengobrol dengan ayah pertama kali? 
ingat tidak ketika kita mau buka puasa di resto yang akan kita tuju, kita diguyur hujan deras?
ingat tidak ketika tanpa sadarmu kau bilang aku adikmu diacara akbar itu?
ingat tidak ketika kau menyuruhku mencari segitiga panjang dan kotak pink?
ingat tidak ketika kau menggenggam tanganku dan berkata "i love you" ?
ingat tidak ketika sapa mu di awal pagi selalu membuatku semangat menjalani hari?
ingat tidak ketika aku kecelakaan kau takut setengah mati kehilangan aku ?
ingat tidak ketika aku selalu malu-malu menatapmu, menatap masa depanku?
ingat tidak ketika aku selalu ingin kau ada didekatku, memelukmu misalnya?
ingat tidak ketika kita taruhan softhit gara-gara bola?
ingat tidak ketika kita menciptakan bahagia kita sendiri?
ingat tidak ketika kita telfonan sampai larut malam gara-gara dapat gratisan?
ingat tidak ketika kita shalat berjam'ah bersama?
ingat tidak ketika kamu menggambar emot cewe di kelapa mudaku , dan cowo di kelapa mudamu?
ingat tidak ketika kita suka bersepedah sore dan jogging bersama ?
ingat tidak ketika kau menggenggam tanganku ketika ombak terhempas ke kita saat bermain dipantai?
ingat tidak ketika aku memelukmu erat sebelum kita benar-benar terpisah oleh jarak?
dan ingat tidak dengan semua kenangan-kenangan kecil yang lainnya?
aku merindukanmu saat ini.....apa kau masi mengingat yang lain?


Selasa, 26 Agustus 2014

Tidak perlu terburu-buru

Kamu, selamat pagi.
Kamu sedang apa? Masih sibuk didepan layar komputer dan kopi hangatmu kah? Atau sedang berpetualang di gunung-gunung sana? Atau juga sedang menikmati pagi di bawah langit yang begitu biru, sejuk, dan lembut, seperti apa yang sedang aku lakukan saat ini?
Kamu sedang membisukah? Bersembunyikah? dalam perjalanankah? Atau sedang berlari mencari ku?. Aku tidak ingin melihatmu lelah berlari, berjalan, bersembunyi, atau membisu. Aku lebih suka kamu menikmati perjalananmu  dengan tenang,  namun penuh dengan tujuan dan keyakinan. Aku tujuanmu bukan? , jadi yakinlah ketenanganmu akan menuntunmu ke titik temu kita. Tidak perlu terburu-buru, aku tidak suka itu. Karena pertemuan dan cinta juga butuh waktu yang tepat, dan juga suasana yang tepat bukan?. aku ingin kamu belajar banyak di perjalananmu mencariku, agar nanti kita dapat berbagi banyak sekali cerita ketika kita dipertemukan, agar nanti kita lebih mudah menghadapi kerikil-kerikil, bebatuan, hujan bahkan badai yang menghalangi jalan kita, karena pada awal perjalananpun memang kita telah terbiasa menghadapi itu. Kita akan saling berpengangan dengan erat, agar badai sekalipun tak sanggup memisahkan kita. Oleh sebab itu, kamu ..tidak perlu terburu-buru.

#fa ~langitkuitukamu


Sabtu, 23 Agustus 2014

Suatu Hari Nanti

Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.
Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati,yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.
Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.
Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya.
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.
Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.
Suatu waktu nanti akan ada seseorang yang datang,dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,yang akan kalian jadikan prioritas, bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.
Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang,yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya,yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang,yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu. Tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

#fa ~kujagabulanbersinaruntukmu

Sabtu, 14 Juni 2014

Rindu Tanpa Jeda

masih ,
rinduku masih pada kunci-kunci minor
masih,
rinduku masih serupa senja pada langit sore
masih,
rinduku masih pada getar yang sama
masih,
rinduku masih bergelayut tak mau pergi dan bahkan semakin mendayu
selamat pagi sayang,  
rindu ini tertuju lagi padamu
pada anak manusia yang tiba-tiba aku sukai, kamu, Tuan.
seperti menemukan radar dan kadar hati yang sama ketika aku bertemu denganmu pertama kali
meski bertemu denganmu adalah hal paling aku sukai tapi sepertinya jarak dan waktu  selalu sepakat untuk memisahkan lebih lama dan lebih jauh lagi
ah.....aku tak mau membuat rindu ini semakin memilukan, sayang.
telah banyak yang menulisnya dan kau tau itu
aku ingin membuat rindu ini menjadi rindu yang bahagia tanpa gengsi, 
aku selalu suka membuat pengakuan bahwa rindu yang kutujukan padamu adalah rindu tanpa jeda
dan kau juga kan? kita adalah dua insan yang sama-sama paling tak kuat perihal menahan rindu,dan aku tau itu.
tapi hebatnya kita selalu kuat bertahan dalam rindu, tidak malah menyerah begitu saja
buktinya ketika rindu selalu tak datang tepat waktu kita selalu bisa mengatasinya entah dengan cara menulis, melukis atau sekedar mengirim pesan singkat 'aku rindu kamu'
tapi masalahnya rindu enggan untuk pergi dan ah....
lagi - lagi rindu menawarkan nada-nada mellow nada paling memilukan sedunia
rindu yang kupunya adalah rindu yang terlalu untuk kamu yang kuharap takkan pernah berlalu :''



author : Fa ~

Penyuka Hujan dan Penyuka Senja



Penyuka Hujan dan Penyuka Senja

Namanya Naura Aisha Qanita, sering dipanggil Naura, dia adalah gadis penyuka senja. Setiap hari dilaluinya tanpa seharipun ia melewatkan melukiskan senja pada bait puisinya. Dia penggila puisi juga. Sore ini dia duduk bersantai dengan laptop kesayangan dan notes kecil diatas rumah pohon yang dibuatnya dengan Ayahnya. “fuhhh……andai aku punya teman yang juga menyukai senja” gumamnya sambil mengelus-elus layar laptopnya. Dia memang selalu sendiri tak banyak sahabat yang dia punya, tapi menurutnya Ayahnya adalah sahabat terbaiknya. Naura selalu mengeja-eja kata dan diksi untuk menjelaskan betapa cantiknya matahari senja yang tampak didepan matanya itu. Sinar keemasan membuatnya selalu takjub. “Subhanallah, Masyaallah indah nian ciptaanmu, Tuhan. Tak pernah sedikitpun aku tak menyukainya.” Senyum manis Naura terlukis indah kala itu. Semanis Senja.

          “Sudah hampir maghrib, pulang yuk.” Naura suka sekali monolog dengan laptop dan notesnya. Dia membereskan dan memasukkan laptop nya kedalam ranselnya. Sebelum dia beranjak turun, dia menuliskan notes ‘apapun warnamu esok, senja tetaplah akan menjadi cintaku yang pertama’ lalu dia menempelkan kertas mungil itu kedinding rumah pohonnya.

          ‘Kukuruyuuuuuukk………’ suara ayam jago kesayangan Ayah Naura membangunkannya. “Jam berapa sih ini, tumben sudah berkokok?” Naura melihat jam dindingnya sambil mengucek matanya. “Pukul 3.45 AM, belum subuh. Tahajud dulu deh.” Naura turun dari kasurnya dan segera mengambil air wudhu. Naura begitu khusyu’, dia selalu begitu jika telah berhadapan dengan Tuhannya. Sepertinya keyakinannya terus ter-charger dengan sendirinya. 

          ‘Tok…Tok…’ “Iya, Yah, sebentar masih rapiin buku.” Naura hafal itu pasti ayahnya yang menyuruhnya segera bergegas berangkat ke sekolah. Ayah selalu mengantarnya ke sekolah karena arah sekolah Naura dan kantornya searah. 

          Naura masuk kedalam mobil putih, warna yang cukup elegant pilihan Naura untuk sebuah mobil sedan sport. “Yah, kenapa aku terlahir menjadi seorang penyuka senja ya? Apa ayah sama bunda dulu juga suka sama senja?” Tanya Naura iseng. “Iya, banyak kenangan antara bunda sama ayah dulu.” Ayah Naura tersenyum. “Iyakah yah, ada?” Naura tiba-tiba mendadak serius mendengar penuturan ayahnya. “Iya, dulu Ayah menyukai Hujan tapi Bundamu menyukai senja, kita berdua pernah sama-sama bertemu dalam kesempatan yang tak terduga sayang.” Ayah Naura mem-flashback ingatannya pada 21 tahun silam. “Maksud ayah? Bertemu dimana? Kapan Ayah bertemu sama Bunda? Ceritain dong yah.” Bujuk Naura dengan segala penasarannya. “Nanti.” Ayah Naura mengembangkan senyumnya lalu mengelus lembut jilbab putihnya. “Yaah…bete ah, sekarang dong yah.” Naura pura-pura cemberut. “hahaha…tuh didepan kan SMA kamu, jadi saatnya sekolah dong,” Ayahnya suka sekali menggodanya “Tuhkan ayah gitu,” Naura semakin cemberut. “Jangan cemberut gitu dong, mana senyumnya? Nanti kalo dilihat temen-temenmu jelek lo, apalagi temanmu yang spesial. Ayah janji deh nanti kalo sudah pulang Ayah akan ceritain panjang lebar sama kamu. Janji.” Ayah Naura menyodorkan kelingkingnya kedepan Naura. Naura langsung menyambar dengan mengaitkan kelingkingnya ke kelingking ayahnya. “Oke yah, nanti Naura bakal tagih janji Ayah. Dah…ayah, Assalamu’alaikum.” Naura mencium tangan Ayahnya. “Belajar yang rajin ya sayang.” Ayahnya mengecup kening Naura dengan kasih sayang yang luar biasa kepada malaikat kecilnya yang sekarang tlah beranjak dewasa itu. Wajah Naura yang cantik, polos, dan kadang membuatnya gemas selalu mengingatkannya kepada sosok Istri yang sangat ia cintai. Bunda Naura persis seperti Naura, cantik dan manis. Tapi Naura belum pernah memandang wajah bundanya semenjak dia lahir hanya mungkin dia bisa melihat foto bundanya disebuah figura dan album foto milik ayah. Bundanya meninggal setengah jam setelah melahirkan dan melihat wajah mungil malaikat kecilnya itu. Nyawanya tak tertolong. Pendarahan hebat. Rahimnya terlalu lemah untuk proses melahirkan secara normal.  “Andai kau sekarang disini, Nina,” gumam Ayah Naura sembari mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Aku merindukanmu.” Sepertinya Ayah Naura merindukan tambatan hatinya.

          Seperti biasa setiap sore Naura selalu berada diatas rumah pohon. Bersama laptop dan notes mungilnya. “Naura……kamu diatas?” teriak ayahnya dari bawah. “Iya yah, aku disini.” Sambil melambaikan tangan kearah ayahnya yang dipandang sore ini lebih keren dari biasanya, dengan kacamata yang masih setia membingkai wajah manis ayahnya dan mengenakan baju polo warna ungu favorit. “Oke, ayah kesitu.” Ayahnya langsung menaiki anak tangga menuju rumah pohon.
         
           “Ayah ganteng sekali sore ini, jangan-jangan habis hunting bunda baru ya buat Naura?” Naura menyentil gaya Ayahnya yang masih terlihat seperti anak muda itu. Ayahnya kaget gelagapan. “Sayang, nggak akan ada yang bisa gantiin rasa sayangnya ayah ke bunda dan kamu. Kalian berdua adalah sayangnya ayah didunia sampai syurga. Bunda dulu adalah harta ayah yang sangat ayah sayang yang diamanahkan Tuhan, dan ternyata Tuhan lebih sayang sama bundamu, dan Ia menggantikan bunda denganmu Naura, untuk Ayah sayang dan jaga.” Ayah menatap wajah Naura dengan tatapan penuh kasih sayang dan langsung memeluk anak satu-satunya itu. “Ayah, maafin Naura ya udah bilang gitu ke ayah tadi. Naura nyesel deh. Ayah kan jadi mellow banget.” Naura menatap mata Ayahnya yang menahan airmata sedari tadi. 

         “Naura, dulu Ayah bertemu bundamu disuatu tempat yang sangat ramai. Tapi entah kenapa Ayah melihat satu cahaya diantara ratusan orang yang berramai-ramai itu. Dan itu bundamu, Namanya Nina. Nina kecil yang selalu ceria, ramah dan penuh dengan aura kebahagiaan ketika berada didekatnya membuat ayah merasa nyaman ketika hanya sekadar berbalas ‘hay’ dan mengobrol denganya sebentar. Ayah seperti menemukan separuh hati Ayah. Bundamu juga seseorang yang sangat memperhatikan sekaligus mengerti ayah, bagaimanapun kondisi ayah dulu. Bundamu juga adalah seseorang yang sederhana tapi cukup menawan menurut ayah. Selalu mengusahakan apa-apa yang terbaik untuk kita berdua. Itu yang membuat ayah sangat menyayanginya. Meski pautan usia kita cukup jauh, tapi hati ayah selalu tertuju pada cahaya itu. Ayah pernah mengajaknya bermain ombak dipantai tapi Ayah rasa bundamu lebih menyukai senja. Sama denganmu, lalu Ayah memutuskan untuk menunggu pantai dengannya sampai senja muncul dengan binarnya. Dan ketika senja sedang memerah, bundamu langsung takjub dan tersenyum bahagia. Ayah masih ingat betul ekspresi wajah bundamu saat itu. Bunda seperti kamu ketika melihat senja, merasakan setiap detik yang sangat berharga itu sebelum akhirnya langit berubah menjadi gelap. Dan ternyata ketika itu belum sampai tenggelam, hujan turun dengan derasnya, ganti Ayah yang selalu menjadi penyuka hujan, ‘pluviophile’ kata Bundamu, seseorang yang sangat mencintai hujan dan merasa damai seiring hujan yang turun.” Rindu semakin menyesakkan ruang batin Ayah.
           
            “Ayah suka hujan dan Bunda suka senja. Ah...romantisnya cerita ayah. Aku harus menulisnya. Em.. Mungkin aku sekarang juga bertemu dengan penyuka hujan yah. Meski tidak sama persis seperti Ayah.”  Mata Naura berbinar-binar. “Iyakah sayang? Siapa?” Ayah Naura menyelidik. “sepertinya juga aku menyukainya yah dan mungkin jika bunda lihat, bunda akan menyukai penyuka hujan seperti dia,” Melemparkan senyum ke arah Ayah dan kemudian merapikan rambut yang keluar dr jilbabnya. 
           
           “Jujur sama ayah, namanya siapa? Kalau dilihat dari kacamata ayah nih penyuka hujanmu akan jatuh hati pada penyuka senja juga akhirnya, tapi kamu harus ingat jangan berlebihan ya?” Ayah mengelus-elus kepala Naura yang sesekali bayangan Istrinya muncul dalam benaknya. “ah……aku harap juga begitu yah, dipenghujung senja ini, dalam hati kita masing-masing pasti sedang merasakan rindu yang sama ya yah. Ayah pada  si penyuka senja dan aku pada si penyuka hujan tapi aku juga merindukan penyuka senjamu yah. Semoga rinduku dan rindumu berbalas ya yah.” Naura mulai mellow dan menyandarkan kepalanya kebahu ayahnya. “Naura sayang, semoga rindu kita tidak berlebihan ya, yang menyebabkan Tuhan iri kepada kita. Bingkai rindu itu dengan doa, dekatkan dan serahkan pada Tuhan saja, Ayah jadi sangat rindu sama bunda,” ujar Ayah sambil sesekali menyeka airmata. “Iya yah, aku juga merindukan bunda sekarang, meski aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya, tapi hangat tatapan senja sore ini seperti  bunda. Aku ingin memeluk senja yah, aku rindu,” Naura meneteskan air matanya. “Mungkin kau bisa mewakilkan dengan memeluk penyuka hujan yang pernah mendapatkan penyuka senja disampingmu saat ini nak,” Naura langsung memeluk Ayahnya dan berkata “Ayah aku mencintai ayah, seperti Bunda mencintai ayah dulu, cintai aku juga ya yah. Aku sayang ayah,” “Ayah juga sangat mencintaimu nak, tumbuhlah menjadi mujahidah luarbiasa ya buat ayah,” Dalam dekap Ayah, Naura mengangguk, mengiyakan harapan Ayahnya padanya. 
          
                  Senja sore itu seolah menjadi Senja yang penuh dengan harapan manis pun juga kenangan Ayah pada masa lalunya. Rintik kecil yang kemudian hujanpun turun dikeramahan senja, kerinduan Ayah pada Nina Istrinya pun mengembang. 

             Ayah terus mengeja kata dan doa dalam hatinya . ‘semoga seiring rintik hujan yang berjatuhan ini bersama dengan malaikat kecil kita, rindu ini bisa tersampaikan lurus dan tulus padamu disana. Aku masih menyayangimu sayang, tapi aku bisa apa? aku masih berusaha mengikhlaskanmu pergi. seluruh ragamu tak bisa kupeluk lagi ketika rindu ini pecah dan mendayu, tapi cukup dengan memeluk malaikat yang telah kau lahirkan dengan penuh perjuanganmu, aku merasakan hadirmu disisi, Nina … Aku merindukanmu lagi, aku terlalu payah menahannya, Saat ini kau pasti sedang menatap kita, dengan senyuman khasmu yang pernah menawan hatiku secepat kilat. Aku berjanji padamu akan mendidik putri kita menjadi seorang Mujahidah yang selalu membanggakan dan membahagiakan semua orang, termasuk kakek dan neneknya juga. Akan selalu kurawat dan kujaga ia, aku berjanji padamu. Aku mencintaimu lagi. Tuhan, sampaikan salam rindu, sayang, dan cintaku padanya.’   

            “Ayah, Ayah jangan nangis dong yah, kan Naura ada disini, ayah nggak perlu merasa sendirian lagi, aku akan selalu sama Ayah kok. Menjadi malaikat ayah selalu.” Naura memamerkan senyum lebarnya yang cukup serasi dengan wajahnya. “Iya sayang, pasti. Ayo kita pulang mumpung hujannya sudah agak mereda, kan hampir maghrib juga, Jama’ah yuk!” Ajak Ayahnya dengan perasaan yang tlah utuh kembali. “Ayuk…deh yah, siap bos!” Naura mendekatkan telapak tanganya ke dahinya.

               Memang, senja selalu menawarkan romansa sendu, tapi senja selalu bisa menawarkan hangat bahagia ketika bisa benar-benar merasakannya pada akhirnya. :')




Author : Fa.
sorry about for all mistakes ;) hope guys enjoyed atau malah nyesek? hehehe forgive me ^_^